Ayudia tidak turun dengan gemuruh petir atau cahaya yang menyilaukan. Ia memilih turun seperti rintik gerimis tipis di pagi hari—lembut, tenang, dan hampir tak terasa.
Tubuhnya perlahan berubah, jubah birunya yang luas menyusut menjadi kain sederhana yang rapi, dan mahkota cahayanya berganti menjadi selendang yang bersahaja.
Kini, ia berdiri di sebuah pasar kecil di pinggiran desa, menyamar sebagai seorang gadis biasa. Di sana, ia melihat seorang wanita tua yang sedang menatap langit sambil mengusap peluh di dahi.
Wanita itu bergumam kecil, sebuah doa syukur karena pagi ini cuaca begitu cerah sehingga dagangannya tidak rusak oleh badai. Itulah salah satu do'a yang sering sampai ke telinga Ayudia di atas awan.
Ayudia mendekat dan membeli sedikit buah dari wanita itu. Saat tangan mereka bersentuhan, Ayudia secara sembunyi-sembunyi menyalurkan sedikit kehangatan dari Mustika Embun-nya untuk memberikan kesehatan pada raga wanita tua tersebut.
"Terima kasih, Nak. Wajahmu terlihat begitu tenang, seperti langit pagi," ucap wanita itu sambil tersenyum tulus.
Ayudia tersenyum balik, hatinya bergetar. Ternyata, melihat langsung kebahagiaan kecil di bumi jauh lebih indah daripada hanya menatapnya dari ketinggian ribuan kaki.
Ia menyadari bahwa setiap do'a yang dikirimkan kepadanya adalah harapan nyata dari orang-orang yang berjuang dengan gigih setiap hari.
Sebelum kembali ke singgasana awannya, Ayudia menyempatkan diri duduk di tepi sebuah lapangan, memperhatikan para petani yang sedang berlatih gerak dasar silat di bawah pohon besar.
Ia tersenyum melihat bagaimana harmoni antara kekuatan dan alam benar-benar terjaga di sini.
Catatan Perjalanan Sang Dewi:
"Terkadang kita perlu menanggalkan mahkota kita sejenak, hanya untuk menyadari bahwa kebahagiaan paling murni justru ada pada kesederhanaan dan rasa syukur yang tulus."

Post a Comment for "Sang Dewi yang Membumi"
Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.