Embun Pertama Sang Dewi


"Dengan gerakan tangan yang gemulai, ia mengumpulkan sisa-sisa kabut semalam."



Di sebuah puncak tertinggi yang menyentuh awan, Dewi Ayudia berdiri menatap cakrawala yang masih berwarna jingga keunguan.

Baginya, setiap pagi bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah kanvas kosong yang siap ia lukis dengan harapan baru.

Pagi itu, Ayudia melihat ke bawah, ke arah bumi yang masih terlelap. Ia menyadari bahwa kekuatannya bukan terletak pada petir atau badai yang hebat, melainkan pada kelembutan cahaya matahari yang ia giring untuk membangunkan dunia.



Dengan gerakan tangan yang gemulai—seperti gerakan seorang pendekar yang melakukan jurus tunggal dengan penuh penghayatan—ia mengumpulkan sisa-sisa kabut semalam.

Ayudia meniupkan napasnya, mengubah kabut dingin itu menjadi tetesan embun yang berkilauan di atas pucuk-pucuk daun.

"Bangunlah," bisiknya lirih, suaranya menyatu dengan semilir angin. "Hari ini adalah kesempatan untuk bersinar lebih terang dari kemarin."

Saat matahari mulai naik, jubah birunya yang luas perlahan berubah menjadi cerah. Ayudia tersenyum melihat kehidupan di bawah sana mulai berdenyut.

Ia tahu, meskipun ia berada jauh di atas langit, keberadaannya selalu dirasakan melalui ketenangan yang ia berikan bagi mereka yang berani menatap ke atas.


Kata Bijak dari Sang Dewi:

"Jadilah seperti langit yang tak perlu menjelaskan seberapa tinggi dirinya, namun keindahannya selalu mampu meneduhkan jiwa yang sedang gelisah."

 Seri Video Embun Pertama Sang Dewi: 

Post a Comment for "Embun Pertama Sang Dewi"